apa kabarnya ? hanya itu...
lantas kau tanya demikian
huff ini terasa mengejutkan bagiku
Bukan aku ternyata kamu
yang datang untuk pergi..
kembali mengingatkan pada kalimatku sebelumnya sebuah tulisan yang ku sematkan
Bukan untuk kamu tapi aku
kabarnya, nyatanya malah bukan aku tapi kamu
baru saja ku tanya kabar
lalu ku bilang hanya datang sebentar lalu pergi,
Begitulah ungkap ku
Kiranya kamu. ya, kamu yang melakukan itu, lebih dulu "datang untuk pergi"
Benar-benar itu yang sedang kamu lakukan
menanyakan kabar sebentar lalu pamit
pergi katamu ke luar sana jauh,
entah berapa lama waktu yang tak bisa kau janjikan. Memang sempat kau tawarkan kedatangan mu, ingin kerumah dan kabarmu ini kali ketiga pertemuan kita sebelum memang kau akan jauh pergi. Ya tapi takdir belum mengizinkan kita untuk bertemu
walau saat itu jarak kita 1 meter
belum diizinkan, ya belum.
Pesan terakhir mu yang membuat ku sedikit lega " jika kita ditakdir untuk berjodoh maka allah sudah mengaturnya dan jika memang kita tidak berjodoh maka allah juga sedemikian mengaturnya"
Pernah ku katakan "datang untuk pergi" kedengaran nya memang kejam..
Bukan aku tapi kamu yang melakukan
Mungkin ia, tapi ku tau yang kau lakukan tidak kejam.. kau lagi berjuang, benar.
Mungkin juga menjauhi ku atau menghilang?
Pilihan mu tepat jika "datang untuk pergi" dan cara mu bagus jika dengan menghilang dan menjauhi ku. Memastikan diri kata mu, baguslah jika begitu....
bagiku biarlah 1 tahun lalu, pertemuan kedua kita itu menjadi pertemuan abadi kita dan perpisahan abadi kita.
dan kali ini biar tulisan ku ini "datang untuk pergi"sebagai bukti perpisahan abadi kita....
#aku kamu dan fisika@0604