Kamis, 30 Mei 2019

Pantaskah diriku disebut aktivis?

Kenal diriku Dari sebuah masa lalu
Bersemu diam Dan pilu
Balutan kekangan Dan tekanan
Ku simpan rapi dalam sendiriku

Berawal keluh Dan resah
Ku yakini untuk kuat Dan pasrah
Kadang Hati Dan jiwaku tak terarah
Namun  keyakinan ku tak  kan goyah

Usaha Dan do'a telah ku lakukan
Serapi mungkin sakit ku tertutup rapat
Jalani kehidupan selayak nya orang-orang
Tanpa terlihat Ada goresan tekanan

Sungguh Allah itu maha segalanya
Keajaiban telah banyak ku dapatkan
Warna kehidupan pun kian berbeda
Ada sesuatu rasa Yang tak pernah ada

Cahaya ku sebut demikian
Memang seperti Ada pancaran dalam hatiku
Goresan lama terasa berkurang
Rupanya kehidupan luar lebih menakjubkan Dan bertantangan

Berjalan nya waktu kian ku rasa
Rupanya tak semudah seperti Yang diduga
Bukan tentang rasa, diri, kehidupan sendiri
Ku dikenali  dunia patamorgana menuju dunia sesungguhnya
Ku Kira itu benar adanya
Tak bisa hidup kalau Hanya mementingkan diri sendiri
Karena Kita hidup dengan berjuta keragaman
Lalu ku pikir itu berlogika
Karena kita Saling berkaitan antar semuanya
Wajar hidup sendiri itu tak kan bisa
Namun Luka ini terlalu rapi tersimpan sendiri

Akhirnya orang menyebut sebagai aktivis
Lalu lalang penuh petualang
Dengan berbagai teori Dan pengimplementasian kian dicoba
Puncak rasa semua seketika terasa hanya ikut-ikutan Saja,
Kadang lelah itu terasa
Lalu kian ditambah berbagai kejadian Dan ujian
Rasanya diri ini pengikut yang tanpa pesan
Penuh penghayatan Dan tenaga, mencoba
Seperti aktivis lainnya.

Namun pantaskah disebut aktivis?
Kabarnya aktivis tidak sekedar aktivis saja
Banyak teori Dan implementasian Yang kian ditawar kan Dan ditunaikan
Tapi, mungkin kebanyakan tapinya...
Itulah Yang ku rasa,
Seorang gadis Yang sejak kecil nya
Masa lalu nya tersimpan goresan tekanan
Hingga ia temukan kehidupan lebih berwarna
Merasa dirinya masih dibutuhkan
Lagi-lagi apa daya
Sanggupkah? Diri ini tetap menyimpan goresan itu, sembari menjalani kehidupan Yang penuh dengan goresan tantangan
Aku tak seperti aktivis lain
Memenuhi syarat Dan keadaan Yang sudah matang
Aku Hanya seperti pengikut saja
Tanpa membawa bekal Dan keahlian dalam pertempuran.
Pantaskah?
Seketika dijalan masih terasa goresan lama
Lalu ditambah goresan tantangan baru
Rasanya ingin mundur Saja
Tanpa sepengatahuan orang.
Sedih rasanya, bekal ku masih angka saja
Tak memenuhi kriteria apa lagi melebihinya
Kadang Kala semangat kian memudar
Ucapan Sering Kali tak terdengar
Apa yang diungkapkan kadang tak sesuai apa yang dipikiran
Seolah ragaku terbagi dua
Satu ingin menetap satu sisi sangat ingin pergi
Entah mengapa kian ditawar
Keinginan pergi ku sangat menampar
Segera pergi meninggalkan kehidupan ini
Lalu dengan bodohnya aku juga sangat ingin pulang, menetap menuntaskan ini semua
Kadang lagi ku berpikir
Rasaku juga terbagi dua
Satu masih memikirkan orang sekitar  dan peduli,
Satu sisi  sangat ingin bersikap untuk diri sendiri
Beginikah Yang disebut aktivis?
Naluri ku masih Ada, Kesalahan kian Kali ku perbuat, lalu tobat Sering Kali ku ucap pun buat.
Kecewa Sering Kali ku rasa
Capek lelah tertekan serasa makanan,
air Mata seperti minuman.
Juga keyakinan selalu hadir bahwa aku sangat dibutuhkan,  nikmat syukur selalu ku rasakan, jiwa peduli kian hadir, kebahagian kian ditawar kan lalu apalagi Yang kurang,
Harus nya aku bisa,...
Semuanya terasa menjadi dua belahan
Hati jiwa Dan tubuh ku terbagi menjadi dua
Mengapa demikian, ku pikir akibat goresan itu.

Semua terasa betabrakan. Ah rasanya entahlah.. sampai kapan ku menyimpan dan bertahan
Pantaskah org seperti ini disebut aktivis?
Bahkan keadaan dirinya seorang Saja selalu bertabrakan
Lalu salahkah? Seorang Yang seperti ini berusaha menjadi lebih baik lagi?
Kian Kali ku mencoba usaha berubah, menemukan jati diri, sebuah titik terang, kian Kali pula aku dihadapkan berbagai penawaran Yang membuat diriku selalu bertabrakan dengan diriku sendiri...