Selasa, 02 Januari 2018

ku temukan luka

     ku rakit kata perkata tersusun indah penuh makna. lalu ku rangkai pesan-pesan luka yang ku terima. awalnya ku sebut itu hiasan pilu tanpa makna, perlahan ku rasa sayatan  kata-kata indah mu wahai kau pemenang rasa. kau sayupkan
sedikit demi sedikit untaian kata mu yang seolah nyata. lagi, terus dan terus dengan polos indah kata dan watak mu hingga hampir ku terjauh dalam rasa. kadang dengan pintar kau bisikkan hembusan rasa tak sangka ini hanya pemula yang tanpa nama dan bisu belaka. terdiam ku cerna makna tanpa nama kiranya semua tak nyata.  kau hanya pemberi lalu pergi tanpa janji. itu layaknya engkau, selamat! kau hebat dalam memenangkan rasa namun bekas luka nyata kau titipkan, pemula yang bagus kau mainkan kata indah mu hingga membekas dengan jelas segumpal luka. sungguh hampir ku tenggelam jatuh dengan rasa jauh mendalam lalu ku temukan luka sebagai pesan terakhir mu. sekarang ku paham makna luka tak berdarah tapi sakit bercampur kecewa, pilu tapi tak berwujud itu yang  hampir ku rasa, jika tak ku cerna. Luka ! akhir dari rasa yang ku terima tersusun indah terangkai rapi dalam sebuah lubuk luka. kemudian kembali membawa rasa yang nyata ku kan bahagia namun kau membuat ku mengenal dan menemukan luka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar